Sabtu, 27 Agustus 2011

(lagi-lagi) tentang cinta...

Ada seorang wanita buta. Semua orang membenci dia, kecuali kekasihnya. Wanita itu selalu berkata,

“Saya akan menikahimu saat saya bisa melihat.”

Suatu hari, ada orang mendermakan mata kepada wanita itu. Akhirnya wanita itu dapat melihat.

Dengan segera, dia pergi menemui kekasihnya. Tetapi, ketika dia melihat kekasihnya, dia merasa sungguh terkejut karena kekasihnya juga buta.

Kekasihnya bertanya, “Sudikah kamu menikah denganku sekarang?” Tanpa sebuah alasan, wanita itu menolak.



Kekasihnya pun tersenyum dan berlalu pergi sambil berkata. “Tolong jaga mata saya baik-baik…”

PENGUMUMAN YANG MENGGEMPARKAN

Kejadian ini baru terjadi tadi pagi, sekitar jam 7. Layaknya sebuah berita lelayu, harusnya kan memberikan kabur duka. Tapi bukan Bangunrejo, Kricak namanya kalau tidak ada kekisruhan, bahkan untuk sekedar memberitahukan berita lelayu kepada masyarakat luas. Nah, daripada banyak cingcong, mari kita mulai saja (what the) fun fact-nya, :



1. Jadi ceritanya sang jenazah sudah meninggal tadi pagi jam 02.30 (sekarang hari selasa) . Tetapi sang announcer-nya mengatakan bahwa jenazah meninggal pada hari Rabu.

*gubrak



2. setelah diralat, sang announcer-nya mengatakan bahwa jenazah akan dimakamkan hari ini hari selasa. Padahal keterangan dari keluarga besok Rabu

*gubrak yang kedua



3. karena sang jenazah kurang begitu terkenal dengan nama aslinya, maka tadi juga disebutkan nama gaul dari bapaknya

*gubrak yang ketiga



4. akibatnya pengumuman tersebut harus diulang 4x agar info yang diterima masyarakat luas benar benar valid.

*gubrak yang keempat, baru kali ini pengumuman orang meninggal diulang sebanyak ini



5. memang di kampung saya, yang sering dikenal adalah nama panggilan/nama samaran/nama ejekan atau sebagainya. Termasuk saya pun demikian, jarang dari tetangga saya yang tahu nama lengkap saya, bagi mereka nama saya itu adalah asing dan terdengar mengganjal di telinga mereka. Hihihi



6. kemudian yang diingat juga nama jabatan, tampilan fisik ataupun pekerjaan dari seseorang tersebut. Terus kalaupun ada nama yang pasaran seperti agus, budi, butin, dan lainnya memiliki tambahan title dibelakangnya. Misalnya agus RT, agus pesek, agus genther, agus batagor, agus genthong, dll. Sungguh sebuah title yang terdengar aneh sebenarnya. Huhuhu





well, itulah sedikit (tambahan) keanehan dari kampung saya. Maaf sedikit hiperbolis dalam bercerita, namun begitulah adanya. Saya tetap mencintai kampung saya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Hahaha







My second (twenty first) task on 2011

4tht of January 2011

09.52-09.10.06

JAJANAN SD (Part II)

Keisengan kadangkala membuaikan kemampaun fisik untuk mengimbanginya. Memaksa, memeras, dan memacunya untuk terus berbuat tanpa tahu batasan yang jelas. Mengira sangat kuat padahal sejatinya lemah tak berarah, tak terawasi, menyelinap setengah mati untuk terus memuaskan diri. Namun tak apa, bukan sebuah masalah, hanyalah sebuah ubahan untuk terus memaksimalkan diri dan menyemburatkan ide ide kreasi tanpa henti, memberikan setulus mentari yang terus menyinari bumi pertiwi ini.



*opening yang aneh, untuk note yang aneh (lho?)



nah, kembali lagi saya akan membahas tentang jajanan SD saya, setelah 3 hari yang lalu saya merilis note jajanan SD, tentang awal dari memori saya. Kemarin, senin pagi sekitar jam 9, diawali dari keisengan untuk bersepeda ria (padahal sudah panas dan kondisi tubuh yang masih ngethok-ngethok sehabis acara luar biasa hari minggu). Saya pun berangkat menuju tempat favorit saya untuk berolahraga, yah tak salah lagi tempat itu adalah Kraton beserta terasnya yakni alun-alun, hehehe. Nah, seperti biasa saya melewati SD saya, dan pemandangan yang tersajikan berbeda dengan hari biasanya. Kalau biasanya yang saya lihat adalah kesepian dan ketenteraman (karena biasanya saya ke sana hanya hari Minggu saja), kemarin yang tersajikan adalah riuh-rendah suara halus adik-adik kecil saya. Mirip dengan kondisi saya dan teman-teman saya 10 tahun yang lalu, di saat saya masih 3 atau 4 SD (saya rindu kalian teman-teman SD-ku, terutama yang cewek, *ups ga ada yang cewek ding, hahaha piss J).





Sesuai dengan tema note yang kemarin yakni jajanan, maka hal pertama yang kemarin saya identifikasi secara detail ya hanya tentang jajanan. Langsung saja, kita bahas (what the) fun fact-nya, antara lain :



1. Jajanan yang ada tak sebanyak jajanan tempo dulu. Kalau dulu bisa mencapai 15 penjual, sekarang yang ada hanya sekitar 10 penjual. Wah wah berkurang variasinya.

*pantesan anak sekarang kreasinya sedikit, lha jajanannya aja sedikit (ga nyambung), wkwkwk :D



2. dari 10 penjual jajanan itu, kalau ga salah adalah penjual buah, gado-gado, pempek, es juice, tempura+sosis, mainan, french fries (bener ga tulisannya?), cilok, bakso (yang dari dulu belum pernah saya coba), dan mbaknya penjual makanan ringan (masih bertahan meski sudah lebih dari 10 tahun)



3. dari 15 penjual yang dulu saya temui, hanya 1 yang masih tersisa, yaitu adalah mbak mbak penjual makanan ringan

* tetapi sekarang mbaknya lebih gendut, dulu waktu debutnya menjadi penjual, mbaknya masih kurus dan yah masih seperti gadis gitu. Kalau sekarang mah sudah kayak ibu-ibu (ya iyalah mosok ya bapak-bapak), hahaha :p



4. terus simbahnya yang dulu juga jualan makanan ringan, sekarang sudah tak terlihat lagi, mungkin karena kalah bersaing dengan mbaknya, atau mungkin sudah tak di sana lagi. Huhuhu



5. oh ya, terus kupat sayur yang dulu itu ada, kayaknya sudah berganti pemiliknya, karena tampilan sekarang sudah jauh berbeda dengan kondisi 10 tahun yang lalu. Dan ibu-ibunya juga sudah ganti, terlebih sekarang menunya ditambah gado-gado, minuman isotonik, dan rokok (nah lo?)



6. dari semua jajanan yang baru, tak satupun saya mencobanya karena ada rasa malu ketika akan membeli. Lha masak saya bersaing berebut dengan anak SD untuk dulu-dulu mendapatkan jajanan. (dulu hal ini sering saya lakukan, wkwkwk)



7. seperti halnya di film-film, kemarin ketika saya menatap dari kejauhan sekolah, mendengar celoteh ria adik-adik saya, tiba-tiba lonceng sekolah berbunyi membuyarkan kenangan saya. Wah wah wah, lonceng itu tak berganti meski sudah lewat 13 tahun ada di situ. Huhuhu





sudah ah, cukup saya mengolah memori saya tentang kehidupan SD. Yang saya ingin lakukan sekarang hanyalah bertemu teman-teman saya itu, teman teman yang hebat, yang bisa mengajarkan kepada saya bagaimana cara tersenyum, tergelak, menangis, dan bangga akan sebuah kemenangan. WOI, SAUDARA SAUDARI SD SAYA, DIMANA KALIAN ? hahaha semoga kita semua bertambah tinggi (curhatmodeon). Sampai ketemu di liburan semester ini ya ?







My first (twentith) task on 2011

4tht of January 2011

09.10-09.51

JAJANAN SD

Entah kenapa bayangan makanan atau lebih pasnya adalah jajanan waktu SD saya, tiba-tiba bermuncratan di benak saya. Sungguh, sangat sangat aneh padahal ketika tadi saya sedang naik motor, pikiran inilah yang menggedor zona imajinasi saya sehingga harus kembali berputar ke memori sekitar 10 tahun yang lalu. Sekelebat jajanan-jajanan kecil yang dahulu setia menemani hari-hari saya menyemburat memaksa otak kanan saya memeras ingatan-ingatan segar saya tentang kehidupan SD, terutama makanan saya. Seingat saya banyak sekali rupa jajanan yang tersaji di halaman SD saya dahulu. Sekedar informasi, SD saya adalah SD yang terletak didekat pagelaran Kraton Yogyakarta. Yah, bisa dibilang ini adalah SD-nya para keturunan darah biru gitu (narsis mode on-red.). sekalipun sampai hari ini, tak kutemukan satu pun dari teman saya yang darahnya berwarna biru (gubrak !) :O. List makanannya adalah terang bulan Jakarta, pempek teles, endoog grandong, leker pisang super, buah suegar, sate kikil (sempat ada rumor kalau sate ini adalah sate babi, tapi tetap saja rame pembeli, wkwkwk), kupat sayur, nasi goreng tetangga, chiki mbah siapa gitu (lupa namanya), arum manis yang mantap, bakso pak siapa gitu (bakso yang sampai hari ini tidak pernah saya cicipi sekalipun), terus snack ringan mbak siapa gitu (sumpah lupa beneran namanya), lopis di Pasar Panembahan, tempura enak, dan masih banyak lainnya. Sungguh dulu ketika SD malah terkesan kami ini dimanja oleh para pedagang makanan dengan tawaran makanan yang super duper beragam. Belum lagi ada anjuran untuk jajan di koperasi semakin menambah pusing pikiran kami untuk memilih harus jajan apa (Sungguh, dulu hal seperti ini adalah tekanan berat bagi para pelajar SD, wakakaak). Nah, marilah kita bahas (what the) fun fact-nya, uhuiii…….

terang bulan Jakarta

nah, ini adalah salah satu makanan favorit saya. Setangkep bahan martabak yang terbuat dari tepung yang manis dengan tambahan bubuk gula yang seperti bedak bayi, kemudian ditambah dengan cucuran susu kental manis cap **** (bukan bermaksud promosi). Hahaha. Pada awalnya terang bulan ini hanya berharga Rp 100. wah ini sudah mewah waktu itu dan besarnya segedhe telapak tangan. Kemudian berangsur-angsur menjadi Rp 150, kemudian Rp 250, lalu Rp 300 dan akhirnya stag diangka RP 500. wah, sungguh inflasi yang tidak diharapkan waktu SD saya dulu. Karena memang uang saku yang pas-pasan (curhat, wkwkwk) :)



2.pempek teles

selanjutnya adalah pempek teles. Yah, namanya juga murah maka pempek inipun ya hanya ala kadarnya. Terbuat dari tepung kanji dengan senggolan ikan tengiri (ya maksudnya ikan tengirinya ya Cuma disenggolin ke tepung kanji dan diambil lagi, hahaha). Waktu itu tepung kanji ini digoreng dan dibumbui dengan kuah sehingga memang benar-benar berasa pempek. Hahaha. Dulu harganya Rp 150, kemudian Rp 200, dan kemudian Rp 250. Tapi, kalau mau beli, memang minimal harus 500 karena memang harus memakai mangkuk. Sebenarnya boleh ga pake mangkuk dan harganya ya Cuma Rp 300. hadoh



3. endoog grandong

nah, ini dia makanan yang enak juga. Terbuat dari telur yang diencerin dengan air sampai benar-benar encer, kemudian kocokan telur tersebut dimasukkan ke dalam penggorengan kemudian dengan memakai tusuk dari bambu, telur tersebut digulung dengan putaran searah jarum jam, yah bisa dibilang dengan trochospiral dekstral gitulah, halah. Hihihi. Nah, untuk masalah harganya sang penjual cukup fleksibel memberikan pilihan, bisa Rp 200, 300, 500 atau bahkan Rp 1000. yah, hal ini tentunya berimbas pada ketebalan gulungan ya. hahaha



4. leker pisang super

kemudian adalah leker pisang. Nah, kalau ini saya bingung bahannya. Setahu saya bahan pembuat ini adalah kulit yang manis gitulah pokoknya. Hehe. Nah, penjualnya itu adalah bapak-bapak yang sudah cukup berumur. Akan tetapi, jangan pernah Tanya semangatnya, Beliau selalu bercerita menggebu-gebu kepada semua pelanggannya termasuk saya. Wuih, benar-benar mantap sekali. Lalu masalah harga adalah peningkatannya sebagai berikut : Rp 200, 250, 300, 400, dan Rp 500. nah, kalau ingin sedikit ekstrim belilah dengan harga Rp 1000, maka kamu akan temukan kekentalan pisangnya. wkwkwk



5. buah suegar

nah, kalau yang ini semuanya pada sudah tahu kan ? jadi ga usah terlalu cerita banyak ya. Intinya harganya naik dari Rp 250, 300 dan 500, hehe



6. sate kikil (sempat ada rumor kalau sate ini adalah sate babi, tapi tetap saja rame pembeli, wkwkwk

lantas berikutnya adalah sate nan aneh ini. Sate dari irisan kecil-kecil berbentuk kotak ini adalah sate yang aneh menurut saya. Bukan sate yang dari daging tapi kalau ga salah hanya berasal dari gajebo, gajih atau lemak. Yah begitulah. Hehehe. Sang penjualnya juga kocak, selalu mengkomen setiap pembelinya, hahaha. Nah untuk harganya Cuma sedikit kenaikannya dari Rp 100, 150, dan Rp 200.



7. kupat sayur

yang berikutnya adalah makanan favorit saya kalau ada les. Nah, setiap selesai solat dzuhur saya berlomba dengan teman teman saya untuk berlari dari musola sampai tempat penjual karena memang tempatnya yang terbatas. Penjualnya adalah ibu-ibu yang suangat ramah. Huhuhu. Kenaikan harganya hanya Rp 500 dan Rp 1000



8. nasi goreng tetangga

kalau yang ini maksudnya adalah nasi goreng biasa saja sih. Tapi karena sang penjualnya berada di dalam rumah dan warung kecilnya berada di luar, maka saya pun menyebutnya demikian. Harganya hanya Rp 300 dan 500.



9. chiki mbah siapa gitu (lupa namanya)

nah, kalau yang ini ada nenek-nenek yang berjualan beragam jenis makanan ringan seperti itu. Pokoknya lengkap dah. Harganya sih dari kisaran krip-krip yakni RP 50, hingga chiki Rp 500 yang lembat laun berubah menjadi Rp 750 dan Rp 1000



10. arum manis yang mantap

lalu, makanan yang lumayan enak ini adalah salah satu makanan yang cukup aneh membelinya. Yaitu pembeli harus menembakkan kelereng pada kotak permainan yang dimiliki oleh penjualnya untuk mendapatkan angka perolehannya. Kalau beruntung, beli satu bisa mendapat dua maupun tiga. Wkwkwk. Harganya hanya berkisar dari Rp 250 dan Rp 500

*tapi sayangnya di depan mata saya sendiri, bapak penjualnya meninggal dunia karena serangan jantung. haduh



11. bakso pak siapa gitu (bakso yang sampai hari ini tidak pernah saya cicipi sekalipun)

ini bakso yang ada tepat di bawah pohon beringin halaman kami. Rasanya (mungkin) enak. Harganya waktu itu Rp 3000 hingga Rp 5000



12. snack ringan mbak siapa gitu (sumpah lupa beneran namanya)

hampir sama kayak mbahnya tadi, mbak ini berjualan juga dan mereka berdua saingan. hahaha



13. lopis di Pasar Panembahan

ada yang tau lopis ? nah, ini dia lontong yang berasal dari ketan gitu, hehe kemudian ada juruh manisnya yang menghiasinya. Makanan ini sebenarnya jarang saya makan, karena memang tempatnya agak jauh dan karena memang penjual lopis ini sering laris. Hehehe. Harganya Rp 500 dan Rp 1000



14. nasi kuning titip adi

setelah itu adalah nasi kuning titip adi atau tepatna ibu nya adi. Jadi, kalau dulu ga sempet membeli makanan, maka saya titip ke teman saya ini untuk membeli nasi kuning. Jujur, dulu nasi kuning ini sungguh sangat enak. Harganya Rp 1000.



15. es goreng pak Gatot

lantas inilah yang fenomenal, karena apa karena sampai hari ini saya masih bertemu dengan penjualnya yang tak lain adalah pak Gatot. Dulu, beliau juga sering mondar mandir di kampung saya sehingga kami pun saling mengenal. Hehehe. Es ini terbuat dari es biasa yang kemudian dilapisi dengan semacam coklat tapi bukan coklat. Hahaha. Harganya meningkat dari Rp 200, 300, 400, 500, 750 dan akhirnya Rp 1000



16. lidi2an

nah, ini tambahannya, meskipun enak saya tidak begitu sering memakan makanan ini karena dilarang guru saya. hahaha. lagipula setiap kali makan, saya menghabiskannya bahkan sampai ke bumbu di dalam plastiknya saya sedot dengan teknik membalik plastiknya, hihihi. harganya dari Rp 100, 150, 200, dan 300



yah, itulah daftar jajanan saya waktu SD. Dan kayaknya sih masih ada yang lain. Tapi karena sebentar lagi sudah habis waktu saya di 2010, maka saya sudahi di sini saja, hehehe.





My last task on 2010

31st of December 2010

22.30-23.46





nb:

sedikit cerita tentang meninggalnya bapak penjual arum manis itu. waktu itu kan seperti biasa bapaknya dikerubungi oleh saya dan teman teman. Lantas setelah ada yang bermain permainan bonus itu, bapaknya terus memberikan arum manis kepada teman saya. nah, tiba-tiba bapaknya terjatuh, dan membuat panik kami semua. Beliau kalau ga salah waktu itu masih bernapas karena saya masih melihat dadanya naik turun, tetapi pergerakan dada bapak tersebut itu cepat sekali. Kami pun berteriak dan datanglah bantuan dari tukang becak, pedagang dan orang orang sekitar. Kami pun langsung digiring oleh guru kami ke kelas. Tak kurang dari 1 jam, berita duka itu pun datang. Bapaknya diberitakan meninggal dunia. huhuhhu

Selamat memberi! Dengan tulus Tanpa harap kembali (better)

Ada seorang pria paruh baya mempunyai sebuah toko makanan ternak yang tidak begitu laku. Makin hari, makin sedikit saja orang yang membeli pakan ternaknya. Suatu hari, pria itu mendapat ide dan membuat keputusan besar. Ia menginvestasikan uang yang cukup banyak untuk membeli 1000 ekor anak ayam. Wah, begitu para tetangganya tahu, mereka langsung mengejek dan menganggap pria ini tidak waras. Jual makanan ayam saja tidak laku, bagaimana mungkin bisa menjual anak ayam! Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa pria ini tidak menjual anak ayam tersebut.



Sebaliknya, ia malah membagikan anak-anak ayam tersebut secara GRATIS kepada para pembeli pakan ternaknya. “Benar-benar gila!” seru para tetangga. “Tokonya mau bangkrut, dia malah beli banyak anak ayam dan membagikannya secara cuma-cuma. Mana ada pengusaha waras yang melakukan hal seperti itu..” Nyatanya, setelah ada program “gratis anak ayam” itu, mulai banyak orang datang untuk membeli makanan ternak di tokonya. Dan semakin lama, tokonya makin laris saja.



Setelah diselidiki, ternyata pembeli yang menerima anak ayam gratis itu kembali lagi! Mengapa bisa demikian? Tentu saja, untuk membeli makanan bagi anak ayam gratisan itu! ~





Pesan Moral ~ Jangan takut untuk “memberi”, karena itu adl langkah pertama bagi kita, untuk “menerima”. Sayangnya, banyak orang yang berpikir sebaliknya. Mereka berpendapat: “menerima dulu, baru berpikir untuk memberi.” Inilah yang bisa membuat kita tidak mengalami terobosan apa-apa dalam hidup ini. Mana ada petani yang mengharapkan bisa menuai, padahal sebelumnya ia tidak menabur apa pun? Mari teman, selagi masih ada “kesempatan”, tetap jadi orang yang murah hati. Beri kebaikan, beri perhatian. Beri dan beri. Jangan hanya “beri” jika ada keuntungan bagi kita (alias tidak tulus). Ingat, hidup ini seperti “gema”. Apa yang kita keluarkan, niscaya akan kembali kepada kita. Jika kita menabur hal yang baik, tentunya akan menuai kebaikan pula.







Selamat memberi! Dengan tulus Tanpa harap kembali (better)

Life is an adventure

I want to live my life to the absolute fullest

To open my eyes to be all I can be

To travel roads not taken

To meet faces unknown

To feel the wind, to touch the stars

I promise to discover myself

To stand tall with greatness

To chase down and catch every dream

Life is an adventure

Living a full life on the outside, starts on the inside





Kuingin menjalani hidupku… sepenuhnya.

Membuka mataku untuk semua kemungkinan.

Menempuh jalan yg belum pernah ditempuh, bertemu wajah wajah baru.

Merasakan hembusan angin, Menyentuh bintang dilangit.

Aku berjanji untuk menemukan diriku.

Berdiri tegak penuh percaya diri.

Meraih dan medapatkan semua mimpi.

“Life is an Adventure”.

Mother VS Girlfriend

hanya sebagai bahan pemikiran





Seberapa bingung ketika kita marahan ato putus sama pacar? Seberapa bingung kita, ketika marahan sama ibu?



Berapa kali kita menanyakan "sudah makan belum?" sama pacar dalam sehari? Berapa kali kita menenyakan hal yang sama pada ibu kita dalam sehari?



sesering apa kita mengatakan "iya" untuk menanggapi pacar yang minta bantuan? sesering apa kita mengatakan "iya" untuk seorang ibu yang minta bantuan?



berapa lama kita kenal pacar kita sampe dia pantas untuk bikin kita galau? seberapa lama kita kenal ibu kita, dan pantaskah seorang ibu bikin kita galau?



Selagi kita ngejar ngejar penerimaaan seorang wanita... ada satu wanita yang akan selalu nerima kita apa adanya... selagi kita di caci maki, di judge habis habisan ama wanita ato cewek... ada satu wanita yang selalu jatuh cinta, dan gak peduli apa kata orang tentang kita..





Mother or Girlfriend is not a choice... A girlfriend should be a good mother for our children and for us for some extent but a mother should'not be similar with a girlfriend, because a mother loves us more than a girlfriend

(NEGARA KESATUAN) NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Bukan, bukan, penulisan judul diatas, bukan saya maksudkan untuk semakin memanaskan polemik antara es teh eh SBY sang presiden Indonesia (katanya) dengan Gubernur DIY (sementara) Sri Sultan HB X. Yang saya tulis ini adalah beberapa pertimbangan yang mungkin bisa direnungkan atau dibahas kita bersama. Barangkali jika ada beberapa penasihat presiden (yang sok tau, ups) sempat membaca notes saya ini, jadi mohon dipertimbangkan ulang mengenai keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.



Toh, sebenarnya dari nama provinsinya saja, sudah terlihat bahwa memang Yogyakarta memiliki gelar “the spesial one” di negeriku Indonesia ini. Lantas, daripada kebanyakan bertele-tele dan malah ribet, lalu salah omong dengan mengucapkan “sistem monarki tidak sesuai dengan demokrasi yang kita jalankan, dan dikhawatirkan bertabrakan ”, ckckck, bahkan adek bayi pun terisak pelan mendengar pernyataan tersebut. Dan inilah (what the) fun fact- nya mengenai Yogyakarta yang telah saya rangkum dari beberapa media:



1. Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat menyatakan bergabung ke Republik Indonesia sehari setelah proklamasi Indonesia dikumandangkan. Tepatnya tanggal 18 Agustus 1945, Sri Sultan HB IX (kala itu beliau adalah raja Yogyakarta) mengirim telegram kepada Presiden Soekarno untuk bergabung dengan NKRI.



2. Presiden Indonesia (yang sebenarnya) Soekarno, menyambut baik niatan baik Sri Sultan HB IX untuk bergabung dengan NKRI. Padahal sebelumnya, Yogyakarta bukanlah bagian dari NKRI, karena memang status Yogyakarta waktu itu masih menjadi kesatuan sendiri sebagai kerajaan. Bukan bentukan daerah-daerah kecil bentukan Belanda.



3. Akhirnya pada tanggal 5 September 1945, maklumat Yogyakarta-Indonesia telah disetujui oleh pemimpin dari kedua pihak. Kalau tidak salah, di salah satu point dari maklumat tersebut adalah “Pemerintahan Yogyakarta bertanggung jawab langsung kepada Presiden”. Jadi, hal ini menegaskan bahwa Yogyakarta tidak bertanggung jawab dengan legislatif, eksekutif, atau apalah namanya, namun langsung bertanggung jawab langsung kepada presiden. Nah, hal inilah yang membedakan Yogyakarta berbeda dengan provinsi yang lain.



4. Sejak digulirkannya maklumat tersebut, kondisi dan situasi Yogyakarta aman, lancar dan nyaman. Sesuai dengan slogannya, “Yogyakarta berhati nyaman”



5. Nah, (kalau tidak salah) dimulai dari tanggal 5 Januari 1946-Desember 1949, ibukota NKRI dipindah ke Yogyakarta. Hal ini didasari karena tidak kondusifnya kota Jakarta sehingga ditakutkan dapat merobohkan pemerintahan NKRI yang baru saja berdiri dan belum mampu berdiri kokoh.



6. Selama rentang masa tersebut, banyak pegawai pemerintahan NKRI yang digaji oleh Kasultanan Kraton. Dan estimasi terendah yang sempat dianalisis oleh para pelaku sejarahwan, total dana minimal yang dikeluarkan Kraton untuk menjalankan roda pemerintahan NKRI adalah 5 juta gulden. Sebuah angka fantastis pada masa itu.



* Tambahan : menurut analisis saya (gaya sentilan sentilun), estimasikan nilai tukar Indonesia sekarang tehadap Belanda adalah 1 gulden = Rp 10.000. Berarti 5 juta gulden x Rp 10.000 = Rp 50.000.000.000 atau 50 Milyar. Padahal selama rentang tahun 1949-2010 telah terjadi inflasi yang luar biasa ataupun kenaikan nominal rupiah. Anggap saja kenaikan nilai nominal mencapai 10000x (1 sen dulu dianggap Rp 1000 sekarang), maka dana minimal yang dikeluarkan Kraton adalah Rp 50.000.000.000 x 10000 = Rp 500.000.000.000.000 atau 500 Trilyun. What the fun ! hampir mencapai setengah dari APBN Indonesia 2010, sebuah angka yang (sebenarnya) bisa digunakan Yogyakarta untuk membangun negara sendiri. Ups,



7. Selama rentang masa tersebut juga banyak terjadi serangan dari Belanda. Kita tilik saja Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947 dan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Hai SBY, (yang katanya) presiden Indonesia sekarang, tolong hargai segenap pengorbanan warga Jogja untuk mengamankan ibukota negeri ini.



8. Kalau masih kurang data militer, masih ada peristiwa “Serangan Oemoem 1 Maret 1949” yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Soeharto dan menjadi pelecut semangat mengabdi pada negeri itu.



9. Masih kurang juga ? Ada Jenderal Besar Sudirman yang mengapresiasikan dirinya secara habis-habisan kepada NKRI. Tak kurang semangatnya, sekalipun beliau didekap penyakit paru-parunya yang akhirnya menghentikan nyawa fisiknya. Tetapi, lihat semangat yang beliau kobarkan untuk keutuhan NKRI ini.



* Jenderal Sudirman akhirnya pada tahun 1997 mendapat gelar Jenderal Besar (pangkatnya bintang lima bukan bintang empat). Sebuah gelar yang hanya dimiliki beberapa prajurit luar biasa di negeri ini. Salah satunya adalah Jenderal Besar Anumerta AH Nasution.

10. dll





dalam diri kami warga Jogja, sungguh sangat-sangat mencintai INDONESIA secara lahir maupun batin. Jangan lukai hati kami dengan pernyataan dan sikap Anda wahai SBY (yang katanya) presiden Indonesia sekarang. Jangan pernah ragukan kecintaan kami, bahkan bisa dikatakan kami mencintai dan butuh Indonesia tetapi tidak butuh presiden yang seperti itu. Biarkan kami merasa aman dan tentram dengan sistem yang berlaku sekarang. Sultan dan Paku Alam menjadi komandan kami, menjadi pemegang kekuasaan tertinggi kami. Toh, selama ini juga berjalan baik baik saja kan ? Pikirkan dan renungkan perasaan kami, dan yang terpenting adalah SEJARAH. Hidup Yogyakarta ! Hidup Indonesia !





nb : saya tidak ingin melihat tulisan seperti ini kembali menghiasi penjuru kota Yogyakarta, yakni :

ü Jogja Istimewa atau Merdeka !
ü Tanpa kamu KAMI BISA (itu slogan siapa ?)
ü Sendhiko dhawuh ndherek Sultan
ü Penetapan Harga Mati !
ü Dll



Dan juga ada kisah unik ketika kedatangan SBY ke Yogyakarta sewaktu menilik keadaan korban Merapi.

ü Di saat Presiden mengunjungi para pengungsi, para pengungsi tampak tidak terlalu antusias dan simpati kepada SBY. Karena mereka menganggap dia hanya pintar ngomong dan berbuat dengan lamban. Hal ini pun tak hanya terjadi di Yogyakarta. Di Klaten, Magelang, Boyolali, bahkan Wasior dan Mentawai pun terjadi demikian.
ü Sebaliknya, ketika GKR Hemas (istri Sultan HB X) mengunjungi para pengungsi. Tampak para pengungsi sangat antusias dan menghormati beliau. Bahkan di saat GKR Hemas memerintahkan kepada para warga yang desanya tak terkena bencana untuk membantu korban Merapi dengan cara turun langsung maupun membuat nasi bungkus bagi setiap warga, pun langsung dilaksanakan dengan cepat dan memuaskan. Sebuah Potret Karismatik Ratu Yogyakarta.





Yang saya tulis ini sekali lagi bukan untuk semakin memanaskan situasi. Hanya mencoba menginformasikan kepada teman-teman (kalau bisa sih sampai para penasihat Presiden) tentang betapa berharganya keistimewaan Yogyakarta. Bahkan, saya sempat berpikir ke depan seandainya Yogyakarta akhirnya tak dipimpin lagi oleh Sultan dan Paku Alam. Sungguh hal buruk mungkin akan terjadi. Semoga saja tidak, hidup Yogyakarta, hidup negeriku Indonesia yang semakin dicinta ! J











My eightteenth task on 2010

2nd of December, 05.26-6.26

Belajarlah Dari Matahari

Anakku,

lihatlah matahari itu

Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya

Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya

Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya

Ia tetap memberikan pencahayaan

Bayangkan, apa yang akan dialami bumi Bila matahari tidak mau bercahaya





Anakku,

janganlah kau putus asa

Karena besok pagi matahari itu akan terbit kembali

Songsonglah masa depan dengan semangat membara

Tanpa kenal lelah dan pudar

Karena dengannya kau akan menjadi mulia





Anakku,

kau lihat matahari itu sangat tinggi

Tetapi ia masih mau membantu bumi

Karenanya, bila engkau kelak sedang di atas

Janganlah lupa kepada yang di bawah

Sebab kau akan semakin tinggi ketika kau selalu merendah







Anakku,

matahari itu tidak lupa diri

Sekalipun ia sibuk memberikan cahaya kepada semesta

Ia juga memberikan cahaya pada dirinya

Karenanya janganlah kau menjadi seperti lilin

Yang rela membakar dirinya untuk pencahayaan

Tetapi jadilah seperti matahari

Yang memberikan cahaya bagi orang lain

Juga memberikan cahaya bagi dirinya sendiri. 






Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Beragam pelajaran hidup dari relawan (part I)

Sekolah Hidup di Lereng Merapi oleh Harum Sekartaji


kelas bersyukur

“penak kok mbak ning kene. nek mbengi yo anget. ora popo…sing penting sehat, donga dinonga nggih.” sebait ucapan simbah itu kira-kira mengalir demikian, sambil merangkul bahu saya dengan erat. keikhlasan dan kesederhaan. hanya itu yang terlintas ketika mendengar tuturnya. bagaimana tidak? ruang kelas di lereng dingin merapi yang disulap menjadi kamar tidur bersama itu hanya beralas tikar. tetap, beliau mensyukurinya dengan mengatakan sebagai ‘tempat yang enak dan hangat’.

muntilan, sept 2009


kelas kerendahan hati

“kulo mboten gadhah arto mbak”, kata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya ketika teman saya berbagi sebungkus biskuit. sang teman bingung. tapi tiba-tiba tersadar dan menjawab “ini untuk si adik bu, saya gak jual kok”. yup, dalam kondisi cukup kekurangan di pengungsian, hidup berdesakan di gedung sekolah, ibu itu tetaplah seorang warga lereng merapi yang rendah hati dan tahu diri bahwa ia harus berusaha sebelum mendapatkan sesuatu, bukan sekadar menerima pemberian orang.

selo, sept 2009


kelas kesopanan

seorang anak lelaki dengan asiknya menyusun kepingan-kepingan lego yang saya bagikan menjadi sebuah mobil mungil. dengan wajah berbinar si anak memainkan mobil buatannya seakan lantai dingin balai desa itu adalah jalan raya yang mulus. “breemmm bremmm ciiiit”, kata-kata ajaib keluar dari mulutnya. puas bermain, dia melepas mobil dan hasil karya lain menjadi kepingan lego kembali. memasukkannya ke dalam plastik, dan berlari ke arah saya: “mbak niki mbak…mpun rampung dolanan.” anak sekecil itu, tahu bahwa apa yang bukan miliknya harus dikembalikan. wajahnya kembali bersinar ketika saya katakan bahwa semua mainan yang kami bawa itu tidak akan kami bawa kembali pulang.



kelas kejujuran

“oke…ketua kelompok tolong membagi bukunya dengan adil ya. satu orang dapat dua,” kata teman saya kepada anak-anak dalam sebuah acara bermain bersama di sebuah posko di muntilan. tak lama anak perempuan itu maju membawa satu buku dan menyerahkannya. “lho ini kenapa dik?”, tanya teman saya. “sisa satu mbak, saya kembalikan.” yup, sisa satu buku itu bisa saja dia simpan sendiri. tapi tidak, dia tahu bahwa kejujuran lebih penting.

selo, sept 2009



kelas ‘njawani’

“yo nek wong sing ora paham kearifan lokal ning kene ki pancen rodo angel nrimo artine loyalitas lan spiritualitas versi jowo. ora ono hubungane ro mistik2an, ning iki masalah prinsip. makane ha mbok awakmu kerjo karo londo2 kae yo ojo nganti lali tetep kudu njawani.” yang terakhir ini adalah ucapan ibu saya. selalu mengingatkan untuk tidak lupa ‘kembali’ menginjak tanah di mana saya dilahirkan, walaupun kaki sudah melangkah ke seribu tanah lainnya

tepat sebulan sudah. semoga jogja tetap berhati nyaman.

semoga merapi tetap hidup di hati kita – terutama bagi ‘anak-anak kampung ‘ seperti saya yang tumbuh bersamanya.

jakarta, 27 november 2010




Sumber: Harum Sekartaji