Sabtu, 27 Agustus 2011

(NEGARA KESATUAN) NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Bukan, bukan, penulisan judul diatas, bukan saya maksudkan untuk semakin memanaskan polemik antara es teh eh SBY sang presiden Indonesia (katanya) dengan Gubernur DIY (sementara) Sri Sultan HB X. Yang saya tulis ini adalah beberapa pertimbangan yang mungkin bisa direnungkan atau dibahas kita bersama. Barangkali jika ada beberapa penasihat presiden (yang sok tau, ups) sempat membaca notes saya ini, jadi mohon dipertimbangkan ulang mengenai keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.



Toh, sebenarnya dari nama provinsinya saja, sudah terlihat bahwa memang Yogyakarta memiliki gelar “the spesial one” di negeriku Indonesia ini. Lantas, daripada kebanyakan bertele-tele dan malah ribet, lalu salah omong dengan mengucapkan “sistem monarki tidak sesuai dengan demokrasi yang kita jalankan, dan dikhawatirkan bertabrakan ”, ckckck, bahkan adek bayi pun terisak pelan mendengar pernyataan tersebut. Dan inilah (what the) fun fact- nya mengenai Yogyakarta yang telah saya rangkum dari beberapa media:



1. Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat menyatakan bergabung ke Republik Indonesia sehari setelah proklamasi Indonesia dikumandangkan. Tepatnya tanggal 18 Agustus 1945, Sri Sultan HB IX (kala itu beliau adalah raja Yogyakarta) mengirim telegram kepada Presiden Soekarno untuk bergabung dengan NKRI.



2. Presiden Indonesia (yang sebenarnya) Soekarno, menyambut baik niatan baik Sri Sultan HB IX untuk bergabung dengan NKRI. Padahal sebelumnya, Yogyakarta bukanlah bagian dari NKRI, karena memang status Yogyakarta waktu itu masih menjadi kesatuan sendiri sebagai kerajaan. Bukan bentukan daerah-daerah kecil bentukan Belanda.



3. Akhirnya pada tanggal 5 September 1945, maklumat Yogyakarta-Indonesia telah disetujui oleh pemimpin dari kedua pihak. Kalau tidak salah, di salah satu point dari maklumat tersebut adalah “Pemerintahan Yogyakarta bertanggung jawab langsung kepada Presiden”. Jadi, hal ini menegaskan bahwa Yogyakarta tidak bertanggung jawab dengan legislatif, eksekutif, atau apalah namanya, namun langsung bertanggung jawab langsung kepada presiden. Nah, hal inilah yang membedakan Yogyakarta berbeda dengan provinsi yang lain.



4. Sejak digulirkannya maklumat tersebut, kondisi dan situasi Yogyakarta aman, lancar dan nyaman. Sesuai dengan slogannya, “Yogyakarta berhati nyaman”



5. Nah, (kalau tidak salah) dimulai dari tanggal 5 Januari 1946-Desember 1949, ibukota NKRI dipindah ke Yogyakarta. Hal ini didasari karena tidak kondusifnya kota Jakarta sehingga ditakutkan dapat merobohkan pemerintahan NKRI yang baru saja berdiri dan belum mampu berdiri kokoh.



6. Selama rentang masa tersebut, banyak pegawai pemerintahan NKRI yang digaji oleh Kasultanan Kraton. Dan estimasi terendah yang sempat dianalisis oleh para pelaku sejarahwan, total dana minimal yang dikeluarkan Kraton untuk menjalankan roda pemerintahan NKRI adalah 5 juta gulden. Sebuah angka fantastis pada masa itu.



* Tambahan : menurut analisis saya (gaya sentilan sentilun), estimasikan nilai tukar Indonesia sekarang tehadap Belanda adalah 1 gulden = Rp 10.000. Berarti 5 juta gulden x Rp 10.000 = Rp 50.000.000.000 atau 50 Milyar. Padahal selama rentang tahun 1949-2010 telah terjadi inflasi yang luar biasa ataupun kenaikan nominal rupiah. Anggap saja kenaikan nilai nominal mencapai 10000x (1 sen dulu dianggap Rp 1000 sekarang), maka dana minimal yang dikeluarkan Kraton adalah Rp 50.000.000.000 x 10000 = Rp 500.000.000.000.000 atau 500 Trilyun. What the fun ! hampir mencapai setengah dari APBN Indonesia 2010, sebuah angka yang (sebenarnya) bisa digunakan Yogyakarta untuk membangun negara sendiri. Ups,



7. Selama rentang masa tersebut juga banyak terjadi serangan dari Belanda. Kita tilik saja Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947 dan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Hai SBY, (yang katanya) presiden Indonesia sekarang, tolong hargai segenap pengorbanan warga Jogja untuk mengamankan ibukota negeri ini.



8. Kalau masih kurang data militer, masih ada peristiwa “Serangan Oemoem 1 Maret 1949” yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Soeharto dan menjadi pelecut semangat mengabdi pada negeri itu.



9. Masih kurang juga ? Ada Jenderal Besar Sudirman yang mengapresiasikan dirinya secara habis-habisan kepada NKRI. Tak kurang semangatnya, sekalipun beliau didekap penyakit paru-parunya yang akhirnya menghentikan nyawa fisiknya. Tetapi, lihat semangat yang beliau kobarkan untuk keutuhan NKRI ini.



* Jenderal Sudirman akhirnya pada tahun 1997 mendapat gelar Jenderal Besar (pangkatnya bintang lima bukan bintang empat). Sebuah gelar yang hanya dimiliki beberapa prajurit luar biasa di negeri ini. Salah satunya adalah Jenderal Besar Anumerta AH Nasution.

10. dll





dalam diri kami warga Jogja, sungguh sangat-sangat mencintai INDONESIA secara lahir maupun batin. Jangan lukai hati kami dengan pernyataan dan sikap Anda wahai SBY (yang katanya) presiden Indonesia sekarang. Jangan pernah ragukan kecintaan kami, bahkan bisa dikatakan kami mencintai dan butuh Indonesia tetapi tidak butuh presiden yang seperti itu. Biarkan kami merasa aman dan tentram dengan sistem yang berlaku sekarang. Sultan dan Paku Alam menjadi komandan kami, menjadi pemegang kekuasaan tertinggi kami. Toh, selama ini juga berjalan baik baik saja kan ? Pikirkan dan renungkan perasaan kami, dan yang terpenting adalah SEJARAH. Hidup Yogyakarta ! Hidup Indonesia !





nb : saya tidak ingin melihat tulisan seperti ini kembali menghiasi penjuru kota Yogyakarta, yakni :

ü Jogja Istimewa atau Merdeka !
ü Tanpa kamu KAMI BISA (itu slogan siapa ?)
ü Sendhiko dhawuh ndherek Sultan
ü Penetapan Harga Mati !
ü Dll



Dan juga ada kisah unik ketika kedatangan SBY ke Yogyakarta sewaktu menilik keadaan korban Merapi.

ü Di saat Presiden mengunjungi para pengungsi, para pengungsi tampak tidak terlalu antusias dan simpati kepada SBY. Karena mereka menganggap dia hanya pintar ngomong dan berbuat dengan lamban. Hal ini pun tak hanya terjadi di Yogyakarta. Di Klaten, Magelang, Boyolali, bahkan Wasior dan Mentawai pun terjadi demikian.
ü Sebaliknya, ketika GKR Hemas (istri Sultan HB X) mengunjungi para pengungsi. Tampak para pengungsi sangat antusias dan menghormati beliau. Bahkan di saat GKR Hemas memerintahkan kepada para warga yang desanya tak terkena bencana untuk membantu korban Merapi dengan cara turun langsung maupun membuat nasi bungkus bagi setiap warga, pun langsung dilaksanakan dengan cepat dan memuaskan. Sebuah Potret Karismatik Ratu Yogyakarta.





Yang saya tulis ini sekali lagi bukan untuk semakin memanaskan situasi. Hanya mencoba menginformasikan kepada teman-teman (kalau bisa sih sampai para penasihat Presiden) tentang betapa berharganya keistimewaan Yogyakarta. Bahkan, saya sempat berpikir ke depan seandainya Yogyakarta akhirnya tak dipimpin lagi oleh Sultan dan Paku Alam. Sungguh hal buruk mungkin akan terjadi. Semoga saja tidak, hidup Yogyakarta, hidup negeriku Indonesia yang semakin dicinta ! J











My eightteenth task on 2010

2nd of December, 05.26-6.26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar