Minggu, 26 September 2010

Filosofi Eek :)

Halo adek-adek……..(dengan nada medhok, haha),
gimana kabarnya semua ? hehehe. Sudah lama saya tidak merilis tulisan saya dikarenakan jadwal syuting saya yang, yah, bisa dibilang padat banget lah (obsesi artis mode on), hihi g ding bercanda.
Nah, pada kesempatan yang mulia ini, tema pengajian kita adalah *loh nglantur? Wkwkwk.


Okelah, pokoknya kita akan membahas suatu hal yang menarik sesuai dengan judul di atas yang jujur itu sebenarnya menjijikkan untuk dibahas. Huhuhu.

Akan tetapi, dibalik persepsinya yang notabene adalah menjijikkan ternyata EEK (mohon jangan dibaca eek, ganti aja huruf vokalnya dengan huruf selain e atau sebut aja dengan nama tahi)
*lah sama aja vulgar. Wkwkwk.



Mulai serius ni dan langsung pada intinya (tiba-tiba wajahku bersinar pas nulis ini, wkwkwk), EEK sebenarnya mempunyai kaitan erat dengan ILMU IKHLAS lho. Dan agar teman-teman g bosen dengan cing cong dari mulut saya yang eksotik ini. Perhatikan saja (what the) fun fact- nya berikut ini :


1. seseorang biasanya akan diam-diam dan mengendap-endap ketika akan membuang EEK-nya, karena malu dilihat orang. Terlebih jika dia sudah menunjukkan tanda-tanda perangsang gas beracun yang menyesakkan hidung orang di sekitarnya.

* sesuai kan dengan istilah ”beramalah kamu dengan tangan kanan dan janganlah sampai tangan kirimu itu tahu”
Nah, andai aja manusia itu kalau akan beramal g perlu dipublikasikan kemana-mana dan dia tidak koar-koar tentang amalannya.


2. seseorang yang pengen EEK pasti akan terburu-buru langkahnya dan segera mencari kamar mandi tanpa banyak berpikir banyak.

* nah, bayangin aja kalau setiap orang itu mempunyai hasrat beramal seperti kayak gini ni, semuanya pada berlomba-lomba mencari tempat beramal tanpa mempedulikan siapa pun. (keren banget ini)


3. seseorang ketika sedang ”ngebom” pasti akan menggelontorkan EEK-nya dengan sepenuh hati dan sebanyak mungkin sampai sepuas-puasnya lah pokoknya.

* bayangin aja jika seluruh umat manusia itu beramal dengan seikhlas-ikhlasnya kayak waktu dia EEK, Beuh ! pasti pengurus masjid bingung naruh duit amalnya dimana.


4. seseorang yang sedang mengeluarkan EEK-nya dipastikan tidak akan menghitung banyaknya EEK yang dia keluarkan. Entah dari segi massa maupun komposisi EEK-nya.

* andai saja manusia itu ketika beramal juga kayak gitu, dia g mempedulikan seberapa banyak atau materi apa yang dia amalkan. Namun, hingga hari ini realita yang masih terjadi adalah seseorang membanggakan dirinya karena telah menyumbang sebanyak sekian harganya.


5. seseorang yang telah selesai EEK pasti akan membersihkan sumbernya dengan sebersih-bersihnya dengan harapan tidak ada EEK-nya yang tersisa.

* nah, kalau saja manusia itu beramal dengan sebanyak-banyaknya dan dia memastikan tidak ada hartanya yang tidak digunakan untuk beramal, pasti sungguh luar biasa amalan orang itu.


6. seseorang yang sudah selesai dari proses mengeluarkan EEK-nya, dipastikan tidak akan mengingat-ingat dengan bentuk, jumlah, warna, maupun komposisi dari EEK-nya.

* nah, baiknya tu kayak gini, manusia itu tidak perlu mengingat-ingat amalan baik apa yang sudah dilakukannya. Yang perlu diingat itu adalah dosa, biar kita senantiasa terus ibadah. Betul ? hoohoho


7. seseorang dipastikan tidak akan bercerita dan bahkan PAMER kepada sanak saudara, teman, ataupun istri dan suaminya mengenai EEK-nya yang tadi sudah dikeluarkan.

* nah, ini juga penting, g perlu namanya pamer pada semua orang tentang kebaikan yang sudah kita lakukan. hihihi


8. seseorang dipastikan jarang sekali menahan namanya EEK, karena apabila EEK-nya terus-menerus ditahan maka yang terjadi adalah ”kecirit”, dan efeknya buruk untuk dirinya maupun orang lain.

* nah, seseorang itu kalau punya harta yang banyak baiknya jangan ditahan-tahan untuk dikeluarkan karena kalau g dikeluarkan malah biasanya memancing adanya perampokan atau bencana yang tidak diduga. Mending buat sedekah, kan pasti dapat balasan yang melimpah dari Allah. Betul ?


9. seseorang yang pernah mengeluarkan EEK-nya dipastikan hampir tidak pernah membandingkan-bandingkan EEK-nya dengan EEK orang lain

* nah, baiknya itu kayak gini, orang yang sudah beramal tidak perlu membanding-bandingkan amalannya dengan orang lain.


Well, itu adalah analogi EEK dengan ILMU IKHLAS. Monggo dipahami dengan seksama karena malu tidak malu analogi di atas bisa dibilang relevan dengan kondisi umat manusia sekarang. Betul ?

Dan saya juga minta maaf jika dalam penulisan ini agak vulgar memunculkan tema pembahasan, karena ternyata saya baru sadar kalau ini adalah tema yang menarik. Wkwkwk menurut saya lho

Semoga bermanfaat......




Nb: entah kenapa, setelah menulis point yang ke-9, saya jadi mules dan kebelet eek ni, hadudu. Semoga tidak menular, wakakaak :P



My thirteenth task on 2010
12th of June, 18.24-19.02