Sabtu, 29 Juni 2013

AKHIR HAYAT PENGGEMAR MUSIK DAN PENCINTA AL QUR'AN (Kisah Nyata)

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.

Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekejaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.



Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.

Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.



Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku.Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya…Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.

Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.



Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

Kejadian Yang Menakjubkan… Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah.

“Subhanallah! ” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.

Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit…Kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.

Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.

Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.


“Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah”.Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…


Dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin…(Azzamul Qaadim, hal 36-42)



Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]

Jumat, 26 April 2013

Patutkah Seorang Muslim Berkata "RIP"?


Istilah RIP (Requiescat in pace) bagian dari aqidah Katholik, biasa terdapat pada epitaf dan disenandungkan saat Misa Requiem. Keyakinan ini juga terdapat pada agama Yahudi. Epitaf RIP ditemukan pada nisan Bet Shearim, Yahudi, meninggal 1 Abad Sebelum Masehi.

Variasi lain Requiescat in pace atau Rest in Peace dalam bahasa Inggris adalah penambahan kata "may (semoga)". Ini terkait keyakinan dosa ditebus. Ungkapan RIP dalam bentuk ringkas maupun panjang digunakan pada upacara pemakaman tradisional Yahudi. Pijakannya adalah Talmud kuno. RIP dalam bahasa Inggris, yakni rest in peace, tidak ditemukan pada kuburan sebelum abad VIII Masehi. Meluas penggunaannya setelah abad XVIII.


Ungkapan RIP pada agama Katholik terdapat dalam Misa Requiem (Missa pro Defunctis) yang merupakan bagian dari ritus Tridente. Paus (Emeritus) Benediktus XVI menyatakan Ritus Tridente (Tridentin) merupakan bentuk misa yang luar biasa. Ia keluarkan surat edaran tahun 2007. Ini merupakan surat pribadi(motu proprio) kepada seluruh gereja untuk menggunakan Misa Tridentin. Surat ini bermakna penegasan bahwa ungkapan RIP merupakan bagian tak terpisahkan.


Motu proprio (surat pribadi dengan tanda-tangan pribadi) Paus Benediktus XVI (sekarang emeritus) menegaskan kedudukan misa yang melembaga sejak 1570 tersebut. RIP merupakan bagian penting sebagai semacam "pembersihan dosa secara keseluruhan". Dalam hal ini kedudukan RIP saat misa serupa dengan ungkapan "Allahummaghfirlahu...". Jadi, ini merupakan bagian dari prosesi ibadah. Tentu saja tak sama persis. Dalam Islam, seorang syaikh tak memiliki otoritas penghapusan dosa dan penentuan nasib seseorang jadi ahli surga.


Orang yang sudah diupacarai dengan misa dimana pernyataan RIP ada di dalamnya, dianggap sudah "bersih" dari dosa. Sudah ditebus. Jadi, ungkapan RIP memang tidak dapat dibenturkan dengan kalimat istirja' (إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُونَ) karena memang sangat berbeda kedudukannya. Ungkapan yang berdekatan, tapi amat berbeda konsep dasarnya dengan istirja' adalah "telah berpulang ke rumah bapa...". Cermati ini agar tak gegabah menyama-nyamakan!


Orang yang tak mengimani RIP sekaligus tak percaya kepada otoritas gereja maupun pastor, tidak gunakan istilah RIP. Cukup passed away (telah berpulang) atau serupa itu. Ini menunjukkan bahwa RIP adalah masa keimanan pada agama mereka.


Apakah RIP merupakan ucapan belasungkawa semata? Tidak. Belasungkawa biasa gunakan ungkapan "in my deepest condolence (pada duka cita yang amat dalam)..." atau serupa itu. Apakah RIP merupakan produk budaya semata? Tidak. Menilik sejarah yang lebih rinci, ini merupakan konsekuensi iman & bagian dari peribadatan.


Lalu apa sebutan untuk orang yang sudah mati pada umumnya? Secara budaya, biasa disebut late (mendiang) begitu saja. Mohon maaf sekiranya saya tidak santun dalam bertutur. Nasehatilah saya. Semoga catatan sederhana tentang RIP ini bermanfaat dan barakah.


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim




Perhatikan ini ya teman-teman, karena saat ini adalah masa-masa dimana akidah dan pemahaman kita yang cenderung setengah-setengah menjadi target serangan akan keislaman kita, banyak yang beralasan "gitu aja diributin" , "ah masalah kecil nih" , "yaelah islam ribet amat", dll. Nah point inilah yang saat ini sedang dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh para setan dan sekutunya...


Perkuat pemahaman teman, dengan mempelajari Alquran dan hadistnya... 

Jangan sekedar menjadi Ahli Sunnah wa GOOGLEiyah...

Kalau saya sih, daripada make istilah2 yang diragukan mending ga usah pakai istilah, RIBET AMAT...

Pakai saja nama si mending dengan kata-kata mulia, semacam "semoga damai di sana". SELESAI
hehehe

Kamis, 25 April 2013

Doaku padaMu ketika aku jatuh cinta... :)


Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.


Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.


Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta yang batil.


Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.


Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu


Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.


Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.


Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.


Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.


Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, 
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.


Kukuhkanlah ya Allah ikatannya, Kekalkanlah cintanya,
Tunjukilah jalan-jalannya, Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar,
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu...
amiiin Ya Robbal A'lamin...


Sumber : Tazkirah Online

Rabu, 03 April 2013

Kisah Tukang Sampah :)


Kisah Tukang Sampah


Hari ini adalah hari Ahad, 16 Desember 2012. Hari yang sempurna untuk menjadi hari pertama SEMANGAT MENULIS saya KEMBALI teman-teman. Memang, sudah lama saya tidak menulis. Mungkin, dikarenakan banyak hal yang membuat saya menjadi (sok-sokan) sibuk dan menjalani berulang-ulang rutinitas yang memaksa berpikir keras. Bukan lagi sering, apalagi kadang, saya SELALU tidak memberikan waktu khusus untuk menulis. Akibatnya memang pembendaharaan kata dan alur ide tulisan saya pun terkungkum percuma di dalam pikiran. Begitu ceritanya, sudahlah tak perlu dibahas terlalu panjang, hehehe…

Nah, sekian saja untuk intronya, karena nanti malah isi tulisannya tak sebanyak intronya. Baiklah, untuk memulai tulisan ini memang alangkah baiknya dimulai dengan pertanyaan terlebih dahulu ya, berikut pertanyaannya :

1.       Adakah rekan, tetangga, atau keluarga kamu seorang tukang sumpah ? Tukang yang setiap hari memunguti sampah warga, untuk selanjutnya dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
2.       Atau jangan-jangan justru kamu kawan yang menjadi tukang sampah ? Namun, kamu malu mengakui hal tersebut kawan…
3.       Bagaimana pendapatmu tentang tukang sampah kawan ? Jijik? Kotor? Tak bergengsi? Pekerjaan Hina? Tak memiliki kedudukan atau kemuliaan?

Dewasa ini, banyak orang yang berteriak lantang setuju dengan pertanyaan ke (3), mereka mengangggap bahwa para tukang sampah hanyalah sesuatu kecil yang tak berguna, pekerjaan yang erat kaitannya dengan bau busuk atau bahkan menganggap bahwa pekerjaan seorang tukang sampah hanyalah pekerjaan buat mereka orang-orang yang tak berguna. Begitukah kawan ? Setujukah kamu kawan ?

         Menurut mereka, tukang sampah hanyalah orang yang rela bangun pagi-pagi untuk menjemput truk atau gerobak sampah. Kemudian bergegas menuju pemukiman warga, dengan setia dan semangat mulia menjemput ratusan bahkan ribuan kilogram sampah tiap harinya. Menurut mereka, tukang sampah itu identic dengan bau tak sedap, dekat dengan sampah plastic, bekas jus yang sudah basi, bahkan ada pula yang tega membuang sampah berupa bangkai tikus di sampah hariannya. Bahkan lagi menurut mereka, tukang sampah hanyalah pekerjaan hina yang mau digeluti oleh orang-orang tak berpendidikan, yang mau-maunya menyapu jalanan tiap pagi, berkeliling kota dari pagi hingga sore untuk memburu sampah. Begitulah kata mereka, sama dengan katamu kah kawan ? L


| “Benarkah seburuk itu pikiranmu kawan ? Pernahkah kamu membayangkan seandainya seluruh tukang sampah di seluruh Jogja mogok kerja selama 1 hari bahkan 1 minggu akibat ulahmu yang tak mempedulikan maupun menghargai mereka ?” Pernahkah kamu membayangkan kerusuhan yang akan terjadi ?|


           Bisa dibayangkan seandainya seluruh tukang sampah di Jogja mogok kerja 1 hari, maka akan sangat dipastikan akan terjadi penumpukan sampah di seluruh kota Jogja kawan. Ambil contoh kasus, jika seandainya tiap 1 rumah menghasilkan 2-3 kg sampah tiap harinya. Lalu, tiap kelurahan mengeluarkan sampah sebanyak 1-2 truk sampah tiap harinya. Lantas tiap kecamatan di Jogja anggap saja menghasilkan 5-7 truk sampah setiap harinya. Perlu diketahui, Kota Jogja memiliki 14 kecamatan. Jadi kalau dikalkulasikan adalah 14 kecamatan x 5-7 truk sampah = 70-98 truk sampah yang akan terakumulasi dalam 1 hari. Dan tahukah kamu kawan, jumlah 70-98 truk (setara 1-2 lapangan sepakbola) sampah itulah yang akan memenuhi kota Jogja seandainya tukang sampah mogok kerja selama 1 hari, HANYA 1 HARI. BAGAIMANA KALAU MEREKA MOGOK KERJA SELAMA 3 HARI, 1 MINGGU, ATAU BAHKAN 1 BULAN ? BISA MEMBAYANGKAN KAH KAMU KAWAN ?

| “ Perlu diketahui, Kota Jogja memiliki 14 kecamatan. Jadi kalau dikalkulasikan adalah 14 kecamatan x 5-7 truk sampah = 70-98 truk sampah yang akan terakumulasi dalam 1 hari. Dan tahukah kamu kawan, jumlah 70-98 truk (setara 1-2 lapangan sepakbola) sampah itulah yang akan memenuhi kota Jogja seandainya tukang sampah mogok kerja selama 1 hari, HANYA 1 HARI. “ |


                Masihkah kamu menganggap peran seorang tukang sampah itu kecil kawan ? Masih merasa habatkah dirimu kawan ?


            Setiap pribadi manusia memiliki peranannya masing-masing kawan. Semuanya terikat dalam sebuah harmoni yang disebut kehidupan. Tak ada yang salah dengan tukang sapu jembatan, tak ada yang salah menjadi presiden, tak ada yang salah menjadi nahkoda kelautan, tak ada yang salah dengan pedagang asongan, tak ada yang salah dengan pedagang buah musiman, tak ada yang salah kawan… Setiap manusia memiliki kehidupannya dan pilihannya masing-masing. Semua akan berjalan bersinergi memberikan nafas semangat yang menyenangkan, yang saling melengkapi antara satu hati dengan hati yang lain…
                
        Marilah kawan, mari kita menghargai semua aspek kehidupan… Bahkan Om Taufik Ismail juga membuat puisi yang mantap seperti ini…


Kerendahan Hati
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin, Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang Memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, Jadilah saja jalan kecil, Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten, Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi Rendahnya nilai dirimu…
Jadilah saja dirimu…. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
-Taufik Ismail-




Karena setiap pribadi memiliki baik kurangnya masing-masing, tugas kita hanyalah membaikkannya, menggosoknya dan terus BERKILAULAH… J

Edited on 26 December 2012
At HMTG FT UGM, 3.53 pm

Kamis, 28 Maret 2013

PANCASILA itu P.A.N.C.A.S.I.L.A.

         Dulu, setiap kali kita mengikuti upacara bendera selama Sekolah Dasar (SD), tentu kita akan sangat hafal di luar kepala apa saja isi dari Pancasila. Hafal dengan sangat lantang, bahkan menyebutkan dengan mata tertutup sambil tiduran pun ketika SD kita akan sangat mudah melakukannya. Hal tersebut akan berbeda dengan kondisi sekarang, kalau kita minta ke remaja ataupun orang dewasa untuk menyebutkan pancasila, saya tidak berani menjamin dari 100 orang yang disurvei, semuanya akan mampu menyebutkan sila-sila Pancasila dengan baik dan benar. Bahkan ketika kemarin ada seleksi untuk Hakim Agung, ada salah seorang calon hakim yang dengan mantapnya terbalik mengucapkan sila ke-4 dan ke-5. Bayangkan teman-teman, seorang calon Hakim Agung melakukan kesalahan yang begitu fatal. Seorang yang berkompetensi untuk menjadi salah satu orang terhormat pun melakukan kesalahan, bagaimana dengan masyarakat Indonesia? “ 

           Lantas, mengapa bisa terjadi demikian ? Adakah yang salah dengan Pancasila sekarang ?” 

        Pancasila merupakan dasar Negara yang sungguh sangat mulia, yang dahulu diagung-agungkan oleh para founding father Republik Indonesia ini dibentuk awalnya pada tanggal 1 Juni 1945. Pancasila dibentuk karena merupakan dasar pemikiran utama dalam membangun sebuah Negara baru. Tentu butuh banyak hal yang membuat pancasila tersebut dapat menjadi rangkaian dasar Negara yang benar-benar sanggup menjadi landasan semangat dan bernegara bagi rakyat Indonesia yang tentu saat itu membutuhkan pemantik perjuangan. Belasan ahli kenegaraan dan para perwakilan pun dikumpulkan untuk membahas dasar Negara Indonesia. Dasar Negara tersebut tidak hanya menjadi solusi bagi permasalahan bangsa pada saat itu. Tetapi juga untuk saat ini dan masa-masa yang akan datang. 

         “ Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Pancasila tak mampu meredam carut-marutnya kondisi Indonesia saat ini ? Apakah ini salah Pancasila ?” 

            Di zaman yang sudah begitu pesat ini, permasalahan bagaimana, mengapa, dan kenapa Pancasila tak sanggup menjadi bagian dari kehidupan kita tak lain adalah karena kita sendiri sudah tak begitu yakin dengan nilai-nilai yang ada dalam tubuh Pancasila. Semangat perjuangan yang dahulu begitu menggelora di dalam tubuh Pancasila tersebut, seakan menguap tak bersisa, tak mampu menjalar ke dalam tubuh kita semua sebagai generasi muda. Generasi muda sekarang hanya sibuk berpikir bagaimana berpikir praktis, berharap taktis pada semua hal, tanpa mau memperjuangkan kewajiba-kewajiban dirinya. Hanya mampu menuntut, tak sanggup memberi. Pola hidup yang semakin memudahkan atau bisa dibilang memanjakan generasi sekarang disinyalir menjadi salah satu penyebab pudarnya nilai-nilai Pancasila di dalam diri generasi muda sekarang. Lantas, apakah kita hanya bisa diam diri ? Bertahan pada situasi yang sebenarnya sedang menyeret kita semua dalam jurang kehancuran, teman ? Yakin mampu bertahan, teman ? 

        Memang Pancasila memiliki makna, yaitu panca adalah lima, dan sila yang bisa berarti pasal atau bagian. 5 sila inilah yang menjadi tonggak atau dasar Negara Indonesia yang begitu mempesona karena sanggup mewakili banyak kepentingan dan tujuan yang sangat diharapkan oleh para pejuang, para pahlawan kita dahulu. Dari sila pertama kita begitu diajarkan bagaimana kita memahami bahwa Tuhan itu ada dan esa alias tunggal. Kemudian dari sila kedua kita juga belajar bahwa sesame manusia itu memiliki hal-hal yang harus disetarakan alias adil dan memiliki kaidah adab yang mulia. Lalu pada sila ketiga, kita memahami bahwa belasan ribu pulau yang ada di Indonesia, ratusan kebudayaan yang berkembang hebat di bumi pertiwi ini haruslah terus bersatu agar Indonesia benar-benar utuh menjadi satu kesatuan. Lantas, pada sila keempat, kita semua juga belajar pada pentingnya berdemokrasi dan bermusyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah. Terakhir, kita semua belajar tentang makna keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak ada beda antara satu sama lain, semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. 

           Jadi, sungguh pada dasarnya banyak hal yang bisa kita lakukan untuk dijadikan solusi menawan untuk permasalahan yang begitu berkesan ini kawan, begitu banyak teman. Namun, jika ditarik satu benang merah, tentu adalah bagaimana kita mau memahami Pancasila tersebut secara utuh, tidak secara sepotong-potong. Tidak hanya sekedar menghafal, berteriak lantang, tetapi juga bagaimana kita bisa memahami Pancasila adalah benar-benar menjadi dasar Negara kita yang memiliki nilai-nilai yang harus kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Memahami dan terus meyakini bahwa Pancasila merupakan spirit bagi kita semua untuk menuju Indonesia yang lebih baik. 

        Saya anak Indonesia, dan saya meyakini bahwa Pancasila akan menjadi dasar semangat kita untuk segera menjadikan Indonesia Negara yang lebih baik. Lebih baik bahkan dari Negara yang terbaik di seluruh dunia… 

     Karena PANCASILA itu P.A.N.C.A.S.I.L.A. Di dalamnya terdapat semangat Patriot, Agamis, Nasionalis, Cekatan, Aktif, Sinergis, Intelektual, Loyal, dan Atraktif.


Selasa, 12 Juni 2012

penulisan kata "amin" yang benar nih

Assalaamu'alaykum wr.wb. Sedikit sharing mengenai kesalahan penulisan "Amin" yang sering terjadi, baik itu di Undangan pernikahan , pengucapan waktu kita berdoa, maupun kita mendoakan teman kita dan kita menuliskan kata "Amin" lewat hp, atau bahkan di iklan / acara di televisi. Dalam Bahasa Arab, ada lima perbedaan kata “AMIN” yaitu : 1. ”AMIN” (alif dan mim sama-samapendek), artinya AMAN, TENTRAM 2. “AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN 3.”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA 4. "AAMMIIN" (alif panjang, mim brtasydid dan panjang) -> artinya ORANG YANG MELAKUKAN PERJALANAN --> YANG BENAR : 5.“AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang),artinya YA TUHAN, KABULKANLAN DOA KAMI Terus Bagaimana dengan pengucapan/ Penulisan “ Amien“ ??? Memang betul, kata "Amien" sangat marak di Masyarakat. Kalo bisa, sebisa mungkin untuk kata yang satu ini (Amien) dihindari, karena ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah berdo’a. Ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra) Dalam bahasa arab, berbeda 1 harakat aja bisa berbeda2 artinya, itu mengapa Allah menurunkan Al-Qur'an pada bahasa Arab,yang begitu indah dalam tata bahasanya dan mudah dipahami dan dipelajari, bahkan Allah sendiri yang menjamin bahwa Bahasa Arab itu mudah di pelajari, mengapa kita tidak mempelajarinya? "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Al-Qamar :32) Semoga kita lebih paham dalam menulis/mengucap terutama dari sisi penulisannya. Wallaahu a'lam bisshawab copas dari note sri annas :)

Jumat, 30 Maret 2012

from Mario Teguh - kehilangan :)

Engkau yang merasa entah mengapa, kehilangan tenaga dan keinginan untuk melakukan sesuatu yang penting bagi hidupmu, dengarlah ini …



Kehidupan ini berlanjut.


Apakah engkau mengeluhkannya, memprotesnya, atau mensyukurinya, … kehidupan ini berlanjut.


Tapi engkau tak sendiri.


Ketahuilah bahwa di balik cadar keanggunan, atau tameng kegagahan, dan di balik semua keceriaan dan tawa lantang yang menggema dalam pergaulan yang popular itu, … sesungguhnya banyak tergelatak hati yang galau, yang tak bertenaga, yang letih dengan kepura-puraan, yang ingin berteriak seliar-liarnya, yang ingin berlari kencang membuta menghilangkan diri, dan yang ingin menangis sejadi-jadinya di tengah seramai-ramainya kerumunan.


Sesungguhnya engkau tak sendiri, maka kasihilah sesamamu sebagaimana engkau seharusnya mengasihi dirimu sendiri.


Sesungguhnya tidak mudah menjadi dirimu.


Orang di sekitarmu menuntutmu untuk memenuhi standar mereka tentang apa yang disebut berhasil, mecemoohmu jika engkau tak tampil seperti telah berhasil, menertawakan impian-impianmu, meragukan kesungguhanmu, dan menuntutmu menggembirakan mereka dengan menelantarkan kebutuhanmu untuk hidup damai dengan dirimu.


Kasihilah dirimu.


Janganlah memarahinya karena kesalahan yang tak disengajanya, atau yang dilakukannya karena ketidak-tahuannya.


Bersabarlah dengan kelambanannya dalam memperbaiki dirinya.


Bukankah engkau yang selalu mengatakan bahwa manusia itu tak sempurna? Lalu, mengapakah engkau memarahinya karena ketidak-sempurnaannya?


Dirimu itu paling membutuhkan kelembutanmu.


Apakah engkau tak merasa kasihan melihat upayanya untuk menggembirakan orang-orang tamak yang sombong, yang lebih kaya darimu, yang diharapkannya akan melebihkan pemberian kepadamu jika dia melebihkan tawa dan pujian bagi mereka?


Dirimu itu sesungguhnya telah letih melayanimu, yang banyak bermimpi tapi malas bertindak, yang banyak memprotes tapi mudah tersinggung, dan yang minder tapi sombong.


Turunkanlah suaramu sebentar, dan berbicaralah dalam nada suara yang lebih penyayang kepada dirimu.


Turunkanlah hidung dan wajahmu yang banyak mendongak untuk mengesankan rasa percaya diri itu, dan ramahkanlah wajahmu saat engkau melihatnya di cermin.


Berlakulah lebih jujur kepada dirimu.


Inginkanlah yang besar, tapi ikhlaslah melakukan yang sederhana dan yang dalam kemampuanmu untuk melakukan.


Bersegeralah melakukan yang kau rencanakan dan setialah mengerjakannya sampai selesai, agar dirimu mempercayai janji-janjimu kepadanya.


Duduklah lebih dekat dengan dirimu sendiri. Bersahabatlah dengannya.


Janganlah engkau membuatnya merasa tak kau butuhkan,karena kau sesali semua kekurangannya, sambil melupakan kelebihan dan kebaikannya.


Minta-maaflah kepada dirimu.


Dari semua yang paling membutuhkan permintaan maaf atas kesemena-menaan cara hidupmu, adalah dirimu sendiri.


Mudah-mudahan, dalam persahabatan yang ramah, penuh hormat, dan penuh kasih dengan dirimu sendiri itu, Tuhan mengutuhkanmu dengan dirimu sendiri dalam satu kesadaran jiwa yang semakin mulia dengan semakin bertambahnya usiamu.


Karena sesungguhnya, engkau dan jiwamu itu satu.


Tapi kesejatian jiwamu yang mulia itu, terbelah menjadi seperti dua bagian yang saling tak mendamaikan.


Karena, kesejatian jiwamu itu tak mungkin menjadi tetap utuh, dengan kau ijinkannya nafsu yang buruk sebagai pengganti dari tenaga jiwamu yang suci.


Maka, dekatkanlah dirimu kepada Tuhan, sedekat-dekatnya, dalam kemanjaan yang syahdu, dan dalam keharuan tangis jiwamu yang jujur.


Karena, di dalam kedekatan itulah engkau disucikan.


Karena, Tuhanmu tak mengijinkan apa pun yang kotor mendekat kepadaNya.


Jiwamu yang dekat dan manja kepadaNya, akan dibersihkan.


Dan di dalam kebersihan jiwamu itulah kedamaianmu tumbuh.


Sekarang … tundukkanlah diri dan jiwamu, dalam semesra-mesranya sujud di hadapan Tuhanmu yang merindukan tangis manjamu.


Wahai jiwa yang tenang … indahkanlah senyum di wajahmu itu.


Tuhanmu sedang memandangimu dengan penuh kasih.



Mario Teguh - Dengan hati yang penuh kasih kepadamu, … sahabatku